Oleh: Hasan Achari Harahap
Pertama-tama, saya mengucapkan terima kasih kepada Denni Meilizon atas tanggapan yang diberikan terhadap tulisan saya berjudul “Tan Malaka, Hasan dan Madilog” yang dimuat di website yang sama di tautan ini. Saya menyambut baik kritik tersebut sebagai bagian dari upaya saling menajamkan pemikiran dan memperluas sudut pandang.
Bagi saya, proses saling menanggapi ini bukanlah bentuk serang-menyerang. Justru sebaliknya, ini adalah contoh dialog yang sehat, terbuka, dan beretika. Fakta bahwa tulisan dan tanggapan dimuat di ruang yang sama menunjukkan bahwa perbedaan pandangan dapat dikelola dalam suasana intelektual yang konstruktif.
Sebelum masuk ke substansi kritik, perlu saya tegaskan bahwa tulisan saya tidak dimaksudkan untuk membantah atau mengkritisi pemikiran Tan Malaka dalam buku Madilog. Fokus saya sebenarnya adalah mempertanyakan interpretasi Hasan Nasbi dalam sebuah video yang membahas buku tersebut.
Pertanyaan yang saya ajukan sederhana: apakah benar Tan Malaka memberikan contoh yang sedemikian ekstrem, seperti pernyataan bahwa “tidak ada lagi orang berpikir bahwa bencana terjadi karena jarang beribadah”? ungkap Hasan Nasbi dalam video tersebut. Inilah titik awal kegelisahan saya sekaligus alasan menulis opini tersebut.
Dari sini muncul pertanyaan lanjutan, Apakah interpretasi yang disampaikan Hasan Nasbi sudah sesuai dengan maksud asli pemikiran Tan Malaka, atau justru terlalu jauh?
Saya sendiri tidak menolak adanya kausalitas (hubungan sebab-akibat). Dalam Al-Qur’an, seperti pada Surah Ar-Rum ayat 41, dijelaskan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi karena ulah manusia. Ini menunjukkan bahwa setiap peristiwa, termasuk bencana, memiliki sebab yang jelas.
Namun, ketika muncul pernyataan bahwa “tidak ada lagi orang berpikir bahwa bencana terjadi karena jarang beribadah,” hal ini justru menimbulkan persoalan. Pernyataan tersebut seakan-akan meniadakan dimensi moral dan spiritual dalam memahami sebab terjadinya bencana.
Padahal, dalam perspektif keimanan, bencana tidak hanya dapat dijelaskan secara fisik seperti kerusakan lingkungan atau kelalaian manusia, tetapi juga dapat dimaknai sebagai akibat dari perilaku manusia secara moral.
Dengan kata lain, penjelasan rasional dan penjelasan moral tidak harus dipertentangkan. Keduanya bisa berjalan bersama. Kerusakan alam, kelalaian manusia, dan berbagai praktik yang merusak lingkungan adalah sebab yang nyata dan dapat diterima akal. Namun dalam pandangan iman, semua itu juga berkaitan dengan perilaku manusia yang menyimpang dari nilai-nilai agama.
Allah menurunkan azab kepada manusia melalui cara-cara yang dapat dipahami oleh akal. Artinya, setiap bencana tetap memiliki sebab yang rasional. Namun, sebab-sebab itu tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan kondisi moral manusia secara keseluruhan.
Pada poin keempat yang disampaikan Denni Meilizon, istilah “kurang ibadah” yang saya maksud bukan sekadar ritual semata, tetapi mencakup berbagai bentuk kemaksiatan manusia di muka bumi.
Jika kemudian pandangan saya dianggap berpotensi melahirkan sikap fatalistik, saya ingin memberikan analogi sederhana dalam hal rezeki. Apakah rezeki hanya bergantung pada tawakal tanpa ikhtiar? Tentu tidak. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Tawakal kepada Allah justru mengharuskan seseorang untuk tetap berikhtiar.
Dengan logika yang sama, memahami bencana sebagai bagian dari akibat perilaku manusia secara moral tidak berarti meniadakan usaha atau sikap kritis. Justru sebaliknya, hal itu seharusnya mendorong manusia untuk lebih sadar, lebih bertanggung jawab, dan lebih aktif dalam memperbaiki keadaan. Karena itu, menjadi kurang tepat jika pandangan ini dianggap melemahkan sikap kritis.
Pada poin kelima, tampaknya terjadi kesalahpahaman dalam membaca tulisan saya. Saya tidak pernah mempersoalkan bahwa pola pikir rasional dapat mendorong kemajuan bangsa. Hal tersebut bukan sesuatu yang baru dan saya tidak memperdebatkannya. Yang saya persoalkan adalah pernyataan Hasan Nasbi yang mengambil contoh bahwa “tidak ada lagi orang berpikir bahwa bencana terjadi karena jarang beribadah.”
Perlu saya tegaskan, saya menjunjung tinggi keilmuan. Saya meyakini bahwa Islam adalah agama yang rasional dan tidak bertentangan dengan akal. Namun, persoalannya adalah ketika sebagian orang mulai menjauh dari sumber utama ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an dan Hadis, lalu menempatkan akalnya di atas penjelasan yang sudah jelas maknanya.
Sebagai penutup, saya berharap perdebatan ini tetap berada dalam koridor keilmuan dan saling menghargai. Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar, namun harus tetap disertai dengan kehati-hatian dalam memahami dan menyampaikan pemikiran. Semoga kita semua dijauhkan dari sikap berlebihan dalam menggunakan akal, sekaligus tidak meninggalkan peran akal dalam memahami kebenaran.


[…] Madilog Disalahpahami? Ini Jawaban untuk Kritik Denni Meilizon […]